Ticker

6/recent/ticker-posts

Saatnya Guru Menyemai Kasih Sayang untuk Siswa



Buku ini beberapa kali saya baca. Di blog ini saya juga membuatnya. Tapi tidak terlihat menarik. Mungkin ini lantaran pada awalnya saya mau belajar buat review, dan hasilnya demikian. Bagi teman-teman yang ingin lihat, silahkan klik Mendidik Anak dengan Kasih Sayang, atau Yuk Jadi Guru yang Keren. Sangat sederhana, bukan?

Jujur, mungkin itu tidak masalah buat saya. Toh, itu adalah sebuah proses. Dan, setiap proses seharusnya dihargai. Saya menghargai. Seolah inilah buntut dari kebisaan saya untuk membuat review lainnya. Apa saya mengangumi diri sendiri? Kata orang bijak, menghargai diri sendiri itu sangat boleh. Asal, jangan berlebihan. Maka dari itu saya tidak berlebihan. Sebab, jelas banyak aspek kekurangan dari kebisaan saya tersebut. Setidaknya, inilah proses penilaian diri saya sendiri. Orang lain? Tentu saya percaya bahwa mereka dengan sangat senang memberikan kritik dan saran saat menemukan banyak kekurangan itu. Benar, kan?

Baiklah. Mungkin, saya terlalu panjang ngaurnya. Jadi, untuk kali ini saya kembali mereview buku ini. Istilahnya, dalam review ini saya mengambil sisi lain dari buku ini. Saatnya dimulai!


Judul buku: Spiritual Teaching
Tagline: Agar guru senantiasa mencintai pekerjaan dan anak didiknya
Penulis: Abdullah Munir
Penerbit: Pustaka Insan Madani
Terbit: Cetakan ketujuh, Maret 2010
Halaman: 114



Menyemai Benih Kasih Sayang merupakan bab dari buku ini. Letaknya berada di halaman 57. Dalam bab ini, guru dianjurkan untuk memulai menyemai kasih sayang ke anak didiknya. Selain menyemai, ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu mulai merawat bibit-bibit berupa cinta, kasih, dan sayang. Jadi sebenarnya, yang dimaksud untuk menyemai benih kasih itu ya berupa aspek demikian; cinta, kasih, dan sayang. Mengapa hal itu? Karena mendidik dengan berlandaskan cinta akan berefek pada bertambahnya kepercayaan masyrakat kepada guru, juga terhadap sekolah. Sebab, bila anak dididik dengan penuh rasa cinta, kasih, dan sayang, di dalam didrinya akan tumbuh sifat-sifat positif, seperti kepercayaan diri yang tinggi, berani, dan tidak mudah patah semangat (halaman 57).

Lalu, bagaimana caranya untuk menghasilkan hal itu? Sebelumnya, dalam pembahasan ini mengutarakan untuk menyemaikan hal ini dalam ranah warga di sekolah; kepala sekolah, guru, dan staf-staf lainnya. Maka dari itu, mulailah dari sekarang. Dan berikut hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyemaikan kasih sayang.

 
Membangun citra sekolah
Salah satu kiat jitu untuk membangun karakter unggul adalah dengan menekankan kepada semua guru, agar mendidik siswa berdasarkan cinta, kasih, dan sayang. Jika semua guru telah mampu menunjukkan cintanya kepada siswa, tentu kepercayaan para orang tua terhadap guru dan sekolah akan semakin bertambah  (halaman 59).

Terapkan kiat-kiat sederhana
Guru perlu mencoba banyak cara untuk memoles dan mewarnai hubungannya dengan anak. Sebab, ada beragam karakter anak. Misalanya, ada anak yang suka diberi hadiah, tapi belum tentu suka jika diberi pujian. Demikian juga, ada anak yang mungkin lebih suka ditemani mengobrol ketimbang dibantu pekerjaannya. Itu semua menegaskan bahwa guru harus mencari cara-cara khusus yang disukai anak (halaman 59).

Istimewakan setiap anak
Ada beberapa riwayat yang dapat kita jadikan rujukan tentang bagaimana Rasulullah saw. tatkala berinteraksi dengan anak-anak. Dalam berkomunikasi dengan anak-anak, Rasul juga selalu berupaya mengistimewakan mereka, bahkan pernah pula bermain peran dengan anak-anak itu. Sebagai contoh, suatu ketika Rasulullah saw. menggendong Hasan dan Husain di atas pundak beliau sambil berucap: “Sebaik-baik penunggang kuda adalah mereka berdua, dan ayah mereka lebih baik dari mereka.” (H.R. Tabrani) (halaman 62).

Curahkan perhatian, berilah hadiah
Ada pula sebuah riwayat lain tentang interaksi Rasulullah dengan anak-anak kecil. Suatu ketika Rasulullah saw. membariskan Abdullah, Ubaidillah, dan beberapa anak paman beliau, Abbas r.a. Setelah itu Rasul bersabda: “ ’Siapa yang paling dahulu sampai kepadaku, ia akan kuberi ini dan itu (hadiah).’ Lalu, mereka saling berlomba untuk sampai lebih dahulu kepada beliau, dan mereka sama-sama menubruk punggung dan dada beliau, lalu beliau mencium dan memeluk mereka.” (H.R. Ahmad) (halaman 65).

Bantulah kesulitan mereka
Guru membantu murid dengan memberikan ‘kunci’ atau ‘kail’ yang dapat digunakan oleh siswa menyelesaikan masalah, bukan dengan langsung turun tangan menyelesaikan masalah itu sendiri (halaman 69).

Obrallah pujian
Pada dasarnya, setiap anak suka dipuji. Kebutuhan anak akan pujian lebih besar dibandingkan orang dewasa (halaman 71).

Tanggapilah obrolan ‘tak berguna’ mereka
Tak mengapa bila guru menanggapi omongan anak-anak yang ceplas-ceplos itu dengan tanggapan yang ceplas-ceplos juga. Asal, tanggapan yang disampaikan itu masih ada dalam koridor akhlak yang terjaga, baik dari sisi cara berbicara atau pun isi pembicaraan itu. Guru harus menghindari perilaku-perilaku buruk seperti mengumpat, berbohong, berdusta, menyebut anak dengan gelar atau sebutan yang jelek, atau bahkan mengucapkan kata-kata kotor (halaman 75).

Jangan lupakan sentuhan fisik
Mendekap, mengelus kepala, menggandeng tangan, atau memberi tepukan di bahu tanda bangga, merupakan hal-hal yang lazim dirasakan sebagai bentuk kasih sayang orang dewasa bagi anak-anak. Lebih-lebih bagi anak seusia TK atau SD tahun-tahun awal. Guru harus melakukan sikap-sikap itu kapan pun di mana, tatkala berinetraksi dengan siswa (halaman 78).


Hadirkan mereka dalam doa
Guru adalah ‘orang tua kedua’ bagi anak. Maka, hendaknya guru memang berusaha untuk itu. Maksudnya, guru perlu melakukan hal-hal sebagaimana dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Satu contoh adalah mendoakan anak secara rahasia, tiada yag tahu termasuk anak yang didoakan (halaman 80).

***

Demikianlah beberapa point pada buku ini. Sebagai guru, menyemai kasih, cinta, dan sayang adalah bentuk hal yang harus diusahakan. Lebih-lebih bila guru menginginkan generasi lebih baik. Maka dari itu, untuk melakukan semacam hal itu, guru mulailah mencintai pekerjaanya. Gunakanlah profesi guru sebagai ladang untuk meraup pahala.

Selayaknya guru, maka selayaknya pula untuk menggunakan profesi itu menjadi benar-benar guru. Dan tidak lupa, point di atas hanyalah sekedar point. Ada masih banyak point yang layak untuk kita sisipkan. Sekarang tinggal guru tersebutlah yang menyisipkannya. Mari jadi guru yang keren. Biasanya guru yang keren sangatlah disukai siswa. Bukan begitu?


Reactions

Post a Comment

0 Comments