Sunday, 6 August 2017

Kehilangan Sesuatu yang Mungkin Saja Berharga



Kehilangan. Siapa yang tidak sedih jika kehilangan? Tentu siapa pun pasti akan merasa sedih. Beda dengan kehilangan saat memang benar-benar berharap hal itu hilang. Maka dari itu, kehilangan sering disebut kehilangan separuh dari hidup. Apa serumit itu kehilangan?

Kehilangan memang selalu tergores di kehidupan kita. Entah itu mengenai suatu hal yang berharga. Bisa berupa cinta, kasih, sayang, atau pun lainnya. Namun, untuk kali ini, saya tidak berbagi tentang seseorang yang tercinta. Saya akan membagikan bagaimana tentang suatu benda berharga dan kini tidak bisa apa-apa lagi.


Dimulai dari kartu XL saya yang sudah diblokir, alias sudah tidak aktif lagi. Kenapa demikian? Ini sebenarnya murni dari kelalaian saya. Saya tidak pernah membelikannya pulsa. Hinggga akhirnya, nasib malang tidak bisa dihindarkan. Supaya nasib malang itu tidak berasa, saya sedikit mengenang akan ‘dia’ (red. kartu XL). Berikut kenangannya.

Semoga saya tidak salah. Saya membeli kartu ini saat saya SMA. Kalau tidak salah lagi, saat itu saya masih duduk kelas 2. Kartu XL ini namanya Bebas. Dulu XL memang mengeluarkan beberapa jenis kartu XL; Jempol & Bebas. Karena saya modelnya setia, maka kartu ini tidak pernah saya ganti. Saya tergolong orang yang memang tidak pernah gonta ganti kartu. Ini adalah pergantian kartu ke-2 yang saya lakukan ketika dulu kartu Jempol saya paksa untuk dihilangkan karena lantaran XL selalu menipu. Menipu? Apa maksdunya?

Jadi gini, kartu XL itu terkenal dengan promosi gratis dan menggiurkan. Jadi, sebagai remaja yang labil, saya kerap mengikuti yang ujung-ujungnya saat beli pulsa, pulsa akan otomatis akan cepat habis. Maka dari itu, saya ganti. Dan sekarang? Kartu ke-2 saya itu sudah tidak aktif lagi. Banyak hal yang ‘dia’ torehkan dalam menemani saya.

*Tertipu XL
*Nelpon orang yang terkasih (ceilah, abaikan ya)
*Nelpon teman-teman
*Dipakai ikut kuis-kuis
*Dicantumkan di alamat bila pesan buku atau lain-lainnya
*Beberapa penerbit tahu nomor ini
*Dll

Bila dikenang, maka sangat disayangkan kenapa saya ceroboh membiarkan ‘dia’ pergi untuk selama-lamanya. Tapi yang sudahlah, mungkin takdir ‘dia’ sampai di situ. Lagian alasan saya tidak pernah isi pulsa murni karena XL itu mahal benget.


Berikutnya modem. Ini bukan modem saya sebenarnya. Ini sekolah yang punya. Kepala Sekolah yang belikaan saat beberapa hari kami saling kenal. Iya maklum, Kepala Sekolah saya pindahan. Jadi, perlu kenalan dulu supaya lebih kenal dan saling percaya. Karena saya operator, dan kebetulan modem dari Kepala Sekolah dulu rusak, maka dibelikan ini setelah Kepala Sekolah tahu kalau saya adalah orang baik (haha, abaikan).

Bahagia. Jelas sekali, kapan coba dapat beli modem kayak gini. Saya tidak mampu beli bila dilihat dari harga. Harga modem sama dengan gaji honor ngajar saya selama 3 bulan. Gila, kan, jika saya habiskan uang gaji saya untuk beli modem. Mending saya tabung untuk biaya ‘........’ nanti. Apa itu? Pikirkan saja! Hehe.

Beberapa minggu dipakai, modem ini dipinjam teman. Eh, kembalinya tidak lengkap. Kayaknya habis dipakai berantem sama istrinya. Kenapa begitu? Penutup modem hilang. Badan modem sedikit babak belur. Entah ini benar atau tidak. Tapi seingat saya begitu. Untungnya modem ini masih bisa dipakai. Jadi, gratisan internet masih saya nikmati. Walau begitu, lelet banget.

Hingga pada akhirnya, setelah modem ini menemani saya:
*Pelatihan ke Dinas, UPTD, dll.
*Isi blog
*Buka facebook
*Kirim naskah ke penerbit walau ditolak
*Kirim naskah ke teman yang pengen baca tulisan saya (red. saya yang maksa)
*Say hello dengan beberapa editor, penerbit
*Dll

Dan kini, kenangan itu akan saya ingat sebab modem sekarang tidak bisa dinikmati. Ini murni karena kesalahan XL yang mempromosikan 5GB gratis. Saat saya coba pasang, dan bodohnya saya, bagian micro dari kartu saya letakkan di HP, dan bagian besarnya saya taruh di modem, bagian itu akhirnya nyangkut dan tidak bisa keluar. Apa yang saya lakuka? Bodohnya saya, kenapa saya tidak terpikir kalau bagian kartu akan nyangkut. Karena nyangkut, akhirnya saya tarik-tarik sehingga bagian kartu itu patah. Dan sekarang? Slot modem rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Sedih banget rasanya. Kayak kehilangan pacar yang memang sangat dicintai. Tapi eh, apa saya punya pacar? Hiks. (miris)

Kenapa saya bisa posting ini? Karena bersyukurnya saya punya teman baik yang rela minjamin modemnya yang sudah tidak dipakainya. Semoga saja teman saya betah minjamin. Jadi, saya bisa berlama-lama menggunakannya. Minjam atau merasa memiliki? Haha. Entahlah. Yang penting, sejak postingan ini berdiri, modem yang saya pinjam ini baru 1 minggu masa pinjamannya.

Baiklah, cukup saja tentang sebuah kenangan. Kenangan ini terkait tentang barang. Jadi, bagi teman-teman yang memiliki barang yang sudah menemani selama ini, silahkan jaga dan rawat. Jangan sampai barang tersebut rusak. Sebab, barang yang sudah lama berada di kita, mungkin itu termasuk barang yang sangat kita cintai. Maka dari itu, jangan sampai kehilangan, ya. Teman-teman tahu kan bagaimana rasanya kehilangan? 


2 komentar

Sy juga cenderung cinta sama barang-barang yg sy (walaupun dalam keadaan rusak/error). Sy pernah menjual salah satu barang sy karena desakan kebutuhan yg harus dipenuhi. Barang yg sy jual itu memang lagi error, tetapi rasa kehilangan terasa menjalar menjadi rindu yang mendalam. Hiks

wow wow... pasti rasanya pedih. sepedih saat luka terkenan air garam. hiks. ^_^

Berbagi itu menyenangkan. Jadi, jangan sungkan untuk berkomentar. Beri kritik & saran juga diperbolehkan. Salam kenal, ya... ^_^
EmoticonEmoticon