Sunday, 5 February 2017

Belajar Menulis Harus Rela Berkorban

Siapa yang ingin menjadi penulis? Angkat tangan dong! Jika mau, ada hal yang perlu diperhatikan. Kenapa? Karena menjadi penulis itu banyak lika-likunya. Jadi, penulis yang memiliki buku yang sudah berada di rak toko buku, pasti ada lika-likunya terlebih dahulu. Mulai dari tahap menulisnya, editnya, hingga masa menunggu di penerbit. Luar biasa, kan? Karena dengan beberapa hal tersebut, penulis menunggu sampai beberapa bulan. Ada yang enam bulan, ada yang satu tahun, bahkan bisa kurang dan lebih. Itu tergantung keberuntungan. Atau, bisa juga tergantung amal perbuatan? Loh, kok bisa? Hehe… ini hanya candaan saja. Jadi, abaikan, ya!

adoeen.blogspot.com
Baiklah. Seperti pertanyaan di awal, jika ingin menjadi penulis. Banyak cara yang meski dilakukan. Menurut para penulis yang kubaca atau kudengar; bisa tanya langsung atau baca di blog. Ada berapa hal yang penulis tersebut lakukan, hingga bisa mencapi hal seperti itu. Maksudnya, hingga bisa menciptakan sebuah buku. Hal yang paling sering diutarakan penulis adalah ‘penulis harus rela berkorban’. Maksudnya apa? Apa rela berkorban sampai mati? Atau bagaimana? Oke, sebelum panik, tenangkan diri dulu. Hal tersebut tidak akan terjadi. Tapi beda jika menulis itu menggunakan pedang, mungkin bisa seperti itu. Kenapa? Karena saking serius atau frustasi saat menulis, bisa jadi penulis akan bunuh diri. Bukannya dapat duit, malah dapat dosa. Kok bisa? Iya, bunuh diri, kan, termasuk yang dilarang. Otomatis dosa, kan? Malah dikategorikan dosa besar. Adeh… ngelantur sampai manah nih. Abaikan!

Oke! Hal yang tidak penting di atas maksudnya seperti ini. Seorang penulis rela berkoraban dari segi waktu dan ekonomi.

Waktu
Penulis akan berkorban terkait dengan waktu. Kadang, penulis bisa menulis di depan laptop atau komputer sampai berjam-jam. Tentu, tenaga dan pikiran juga dikerahkan. Otomatis, waktu yang dibutuhkan lama. Bukan hanya masalah waktu menulis saja. Waktu bersama teman atau keluarga juga akan berkurang. Itu disebabkan karena penulis memang ingin sekali menyelesaikan tulisannya. Jadi, jangan heran lihat penulis menyendiri begitu lama.

Selain dengan menulis, penulis juga mengorbankan waktu yang seharusnya untuk hal lain, malah diganti dengan waktu untuk membaca. Sebagaimana pun, seorang penulis adalah pencinta buku. Jadi, penulis akan rela menyampingkan waktu untuk hal lain untuk sekedar membaca. Nah, biasanya, membaca digunakan untuk meningkatkan kosa kata, atau untuk mencari ide baru atau yang sempat hilang. Jadi, menjadi penulis seperti ini terlihat keren, kan?

Ekonomi
Sekali lagi, penulis itu suka membaca. Jadi, secara otomatis penulis akan membeli buku yang menurutnya bagus. Biasanya penulis akan membeli buku beragam tema. Ini tujuannya untuk meningkatkan kualitas menulisnya. Atau, ingin mencoba yang baru. Maksudnya, penulis akan mencoba menulis yang tidak pernah ditulis. Penulis akan mencoba menulis di luar zona amannya. Jadi, penulis itu hebat karena mau mengembangkan diri.

buku sebagai media belajar

Pernah kalian ke rumah seorang penulis tapi di rumahnya tidak ada buku? Aku rasa tidak pernah. Karena penulis itu selalu berdampingan dengan buku (selain pacar atau pasangan hidup). Jika ada waktu luang, maka penulis akan menyempatkan diri membaca. Secara garis besar, pengetahuan penulis itu begitu luasssss… jadi, ilmunya banyak.

Nah, itu yang aku maksud berkorban. Jadi, jangan berpikir untuk hal lain-lain. O ya, ini sih catatan. Setiap penulis memiliki ciri khas dalam menulis. Lika-likunya dalam dunia menulis juga berbeda-beda. Jadi, kalau kalian penasaran dengan lika-liku penulis yang kalian ingin tahu, coba deh tanya penulis tersebut. Pasti seru deh! Bahkan, kalian akan berdecak kagum. Kalau sudah demikian, akan memotivasi kalian untuk ikut menulis, kan? Kalau memang seperti itu, mulailah menulis.

O ya, jika kalian termasuk pemula coba deh, korbankan waktu dan ekonomi kalian, seperti aku. Aku kan pemula sekali dalam menulis. Tapi karena aku ingin mencoba menulis, aku pun siap untuk mengorbankan waktuku. Misalnya seperti apa?

Jadi gini, waktu kuliah dulu, entah datangnya dari mana ingin menulis. Yang pasti aku mau menulis. Hal yang pertama aku lakukan adalah sering membaca. Membaca melalui internet, bahkan pergi ke perpustakaan masjid, atau daerah setempat. Itu kulakukan terus menerus hingga memberanikan diri untuk mencoba menulis. Dan alhasil, jangan tanya bagus atau tidaknya. Namanya pemula, tentu jelek! (menghina diri. hiks…). Tapi, itu terus kulakukan (membaca dan menulis) akhirnya, ada teman yang suka baca punyaku. Katanya, cerita yang kubuat membuatnya menangis. Duh… pada saat itu, bukan temanku saja yang nangis, aku juga hampir nangis karena komentarnya (tidak lebay, ya…).

Nah, mulailah petualangan dimulai. Bukan hanya sekedar membaca, membeli buku pun sering kulakukan. Walaupun tidak sering-sering banget sih. Setidaknya, kalau ada uang, aku akan beli. Dan, ini… ada beberapa buku yang aku baca untuk memantapkan petulanganku dalam dunia tulis menulis.

silabus menulis fiksi
Pertama
Ini sih tidak beli. Ini berupa file PDF. Dulu susah didaptkan. Padahal, aku mau banget. Tapi karena cara memperolehnya agak ribet menurutku (kudet sih sebenarnya), akhirnya aku sekedar berharap saja. Tapi, harapan itu akhirnya terwujud. Penerbit Diva Press membagikan file ini secara gratis. Nah, kalau masalah download lumayan bisa, akhirnya aku download. Setelah itu, aku print (walaupun hasil print tidak bagus karena printerku rusak). Setelah di print, aku buat kliping, yaitu, aku carikan buku bekas yang tidak terpakai. Tulisan yang aku gunting langsung kutempel di sana.

kecil-kecil jago nulis
Kedua
Buku ini kubeli di toko buku daerahku. Sudah lama sih ngincer buku ini. Soalnya, penulisnya sudah senior. Penulisnya ibu-ibu kece yang sudah memiliki buku. Salah satunya yaitu Afifah Afra. Buku pertamanya yang kubaca adalah serial Elang. Langsung suka. Kedua adalah Syahid Samurai. Ini buku bagus banget. Sudah berapa kali aku baca. Tidak bosan untuk membacanya. Selain Afifah Afra, Nurhayati P juga penulisnya. Mbak Nurhayati ini sering banget aku buka blognya. Selalu suka caranya menulis. Simple atau sederhana sekali. Suka sekali membaca karya-karyanya. Bagi kalian yang penasaran tentang tulisa beliau, boleh klik di sini.

draf 1: taktik menulis fiksi pertama
Ketiga
Kalau buku ini aku beli di teman. Sama-sama suka nulis. Ada beberapa teman yang nyaranin untuk beli buku ini. Akhirnya aku beli. Dan, tidak rugi untuk beli buku ini. Isinya begitu detail sekali tentang dunia tulis menulis. Jadi, walaupun kita penulis pemula, rasanya mudah sekali untuk menyerapnya. Apalagi dalam buku ini, penulis langsung menceritakan dan mencontohkannya. Lebih suka penulisnya, menceritakan proses menulisnya di sini. Ya… walaupun setiap bab sedikit demi sedikit. Tapi, jikia disatukan setiap bab jadinya banyak.

Bagaimana, setelah baca tulisanku ini, apa kalian tertarik untuk menulis? Menulislah, maka kalin akan terlihat keren. Eh. Hihi… ini sih bonus saja. Jadi, sebenarnya, jika kalian ingin menulis, nikmatilah proses kalian. Jangan sungkan untuk berkorban. Berkorban untuk pacar saja, kalian rela, apalagi untuk menulis. Setidaknya, ini lebih bermanfaat, kan. #BukanAntiPacaran, ya….

Baiklah. Sekian dulu dariku yang bukan penulis. Hanya sekedar suka menulis, tapi sudah dapat keberuntungan dari menulis. Penulis itu adalah orang yang tetap menulis dan memiliki karya banyak. Penulis itu akan tetap menulis, tidak lekang oleh waktu. Eh.

Salam hangat, ya….
Semoga kalian tetap semangat untuk menulis.

Berbagi itu menyenangkan. Jadi, jangan sungkan untuk berkomentar. Beri kritik & saran juga diperbolehkan. Salam kenal, ya... ^_^
EmoticonEmoticon