Tuesday, 23 January 2018

Goresan Hati: Kekuatan Iman yang Seperti Anak Tangga (Naik Turun)

Mood baik. Segalanya akan terlihat baik. Seperti mengisi di blog. Jika mood itu benar-benar hadir, maka dengan senang hati semua ide-ide akan tercurahkan begitu saja. Tanpa paksaan. Namun, jika itu terbalik? Jangankan isi blog, buka laptop saja malas minta ampun. Apa yang terjadi? Hal manusiawi.

 

Mood. Berbicara tentag hal ini, banyak alasan yang mendasari setiap orang untuk terperangkap dalam hal ini. Misal; kenapa kamu begini? Mood lagi kurang enak. Tuh, kan, mood jadi hal utama dari segalanya. Walau pada dasarnya, itu sih malas. Eh, tunggu dulu; mood dan malas itu sama tidak, ya? Lupakan!

Hari ini, saya tidak ingin memabahas tentang mood. Saya lebih ingin membicarakan tentang keimanan manusia. Sebab, jika saya teliti, contoh di saya, takaran iman manusia itu seperti anak tangga; bisa dinaiki, bisa diturunkan. Padahal, jika dinaiki, justeru akan lebih mudah mencapai puncaknya. Nyatanya?

Inilah memang yang mendera saya. Iman saya seperti sebuah anak tangga; kadang naik, kadang turun. Dan parahnya, turunnya lebih sering ketimbang naiknya. Apa sih penyebabnya? Entahlah. ini mungkin karena faktor hawa nafsu. Ya. Jujur, saya tidak bisa menahan hawa nafsu sebagai manusia. Bila ada bisikan untuk mengatakan lakukan, maka secara sadar melakukannya.

Hawa nafsu yang menyesatkan, bukan? Padahal, jika sudah melakukan hal kesalahan, rasa bersalah atau berdosa kerap menghantui. Contoh ketika hawa nafsu memeganng ponsel; buka facebook, instagram, youtube, dan lain-lainnya. Tidak ada hal yang baik manfaatnya terlalu jauh. Maksud saya, ketika memutuskan untuk membuka media sosal tersebut, ada postif yang ingin diambil. Namun, seiring waktu, kadang hawa nafsu itu tiba-tiba mendorong untuk membuka hal lainnya. Lalu apa yang dilakukan? Kayaknya akan lebih baik segera matikan ponsel. Namun.... ya, begitulah.

Hawa nafsu. Jahat benar, ya? Ketika hawa nafsu itu kalah dengan logika, maka tingkat keimanan semakin baik; rajin ke masjid, mengaji, dan baca buku agama lainnya. Banyak ilmu yang didaptkan. Bersyukur banget dengan kondisi ini. Namun, kadang itu hanya bertahan 1 minggu saja. Berikutnya, harus kalah dengan bisikan itu. Merasa seimbang? Entahalah. Yang pasti, saat tidur tidak tenang, gusar, dan kepikiran hal-hal buruk lain, berarti hal itu mengatakan bahwa kondisi dalam keadaan kotor. Oh, bukan kotor – berdosa.

Ya, beginilah keimanan yang saya alamai. Seperti anak tangga yang bisa dinaiki, dan bisa diturunkan. Bagaimana dengan kalian? Sebaikanya, menaiki anak tangga terus menerus akan lebih baik. Segala hal akan terlihat lebih baik. Jalan lurus memang banyak lika likunya. Namun percaya, keimanan akan membawa kita dalam kebaikan. Bukan begitu?

Haha... posting apaan ya ini? Ini hanyalah goresan hati yang saya lakukan. Maafkan ketika ini sedikit tidak enak dibaca. Ingat, keimanan seperti anak tangga itu manusiwi banget. Namun, alangkah baiknya keimanan kita lebih baik lagi.

Mari sama-sama meningkatkan keimanan. Tidak ada yang indah ketika kita mencoba lebih baik. Iya, kan? Hehe. Yuk hijrah sama-sama.

2 komentar

Udah saya masukin daftar blogwalking ya mas Anwar

Berbagi itu menyenangkan. Jadi, jangan sungkan untuk berkomentar. Beri kritik & saran juga diperbolehkan. Salam kenal, ya... ^_^
EmoticonEmoticon