Thursday, 23 November 2017

Tentang Perjanjian yang Kadang Diingkari, Manusiawikah?

Kembali hadir isi blog ini. Seharusnya saya rutin isi blog ini. Perjuangan selama berapa tahun ini sudah menunjukkan hasilnya. Pengunjung blog makin hari makin memuaskan menurut saya. Tapi, seiring hal itu, kok, saya semakin malas isi, ya? Padahal, saya pernah berjanji dalam sehari diusahakan memposting satu postingan. Nyatanya? Saya malah mengingkari janji saya sendiri.

 

Terkait hal janji, mungkin bukan saya saja yang mengingkari janjinya sendiri. Masih banyak orang lain yang kadang mengingkari janji selain ke diri sendiri, malah lebih dominan mengingkari janji ke orang lain. Adakah yang seperti itu? Pasti ada. Namanya manusia, ada saja kealfaan yang kadang sebenarnya sengaja untuk diingkari. Sebuah penyakitkah? Entahlah. Adakalanya manusia memang sengaja mengingkari janji karena memang kebiasaannya seperti itu. Jadi, mana yang harus diperbaiki terlebih dahulu?

Baiklah, sebelum saya keinti dari pertanyaan tadi, mungkin saatnya saya sedikit bercerita tentang hal yang baru saja saya alamai. Ini terkait dengan murid saya. Di mana, sebagai guru, membuat perjanjian dengan muridnya adalah hal yang biasa terjadi di sekolah. Apa tujuan perjanjian itu?

Biar sama-sama nyaman.
Biar siswa lebih baik.
Biar proses belajar mengajar lebih baik.
Biar karakter murid lebih baik.
Dll.

Lalau, apa dasar seorang guru membuat perjanjian? Jadi, begini... di sekolah, setiap murid itu memiliki karakter yang berbeda-beda. Anak yang karakternya bikin ulah adalah musuh dari guru. Musuh bukan berarti harus melakukan kekerasan, ya. Kan, peraturan di dunia pendidikan sekarang menerangkan bahwa guru tidak boleh melakukan yang namanya kekerasan. Jika melakukan, siap-siap masuk berita TV Nasional. Maka dari itu, hal untuk mencegah agar hal itu terjadi adalah kesabaran dalam mendidik. Walau pada nyatanya, kesabaran itu ada batasnya. Hingga pada akhirnya, jika sabar itu tidak mampu memperbaiki murid, maka perjanjian itu akan dilakukan.

Di sekolah, ada beberapa perilaku murid yang menyebabkan guru untuk melakukan perjanjian. Antara lain:
Murid suka bolos.
Jarang masuk.
Berkelahi antar teman.
Tidak pernah mengumpulkan tugas.
Suka merusak barang-barang sekolah.
Tidak mau mengadakan kegiatan agama setiap pagi (bagi sekolah yang mengadakan imtaq).
Dll.

Maka dengan adanya ini, guru akan dengan panjang kali lebar memberikan petuah yang pada akhirnya, kadang tidak didengar sama sekali. Menyakitkan bukan? Maka dari itu, kadang ada guru yang dulunya super panjang lebar menjelaskan, namun diabaikan untuk kesekiankalinya. Maka, jika berurusan dengan murid itu lagi itu lagi, maka semua panjang lebar itu akan berubah menjadi pengiritan kata, “Besok, suruh orangtuamu ke sini. Jam segini! Silahkan masuk kelas lagi.” Iritkah ini? Bisa jadi ketika melihat sebelum-belumnya.

Pada dasarnya, sebelum pemanggilan orangtua, ada sebuah kesempatan untuk seorang murid. Setiap murid memiliki tiga kali kesempatan. Dalam kesempatan 1, 2, 3 dibuatlah yang namanya perjanjian. Maka, seorang murid harus mematuhi perjanjian itu. Namun apa yang terjadi? Pelanggaran, pelanggaran, dan pelanggaran perjanjian pun terjadi. Manusiawikah?

Ya... jika kita membicarakan manusia, memang ada benarnya. Namun di sini, ada sebuah keperibadian yang rusak jika sebuah perjanjian selalu diingkari. Jadi, seorang guru berarti harus memperbaiki kepribadian seorang anak. Sulitkah? Sangat sulit. Kenapa? Biasanya keperibadiaan anak itu cermin dari bagaimana dia di rumah juga. Apalagi  dilihat dari segi orangtua yang kadang peduli dan kadang tidak dengan pendidikan anaknya. Haruskah seorang guru sabar? Hmmm.... entahlah.

Jadi, pada dasarnya, tulisan ini menerangkan bahwa adakalahnya seorang yang kita anggap mengingkari janjian adalah sifat manusiawi. Namun, jika itu adalah hal yang tetap dilakukan, berarti kepribadian orang tersebut mengalami masalah. Jadi, termasuk manakah kita? Hanya diri kita saja yang tahu.

2 komentar

MEngingkari sebuah janji bisa di toleransi asal dengan alasan yang lebih logis
jika meningkari janji karen hal hal yang tidak penting
itu namanya bukan manusiawi lagi

benar banget mas. itu namanya keterlaluan, ya...

Berbagi itu menyenangkan. Jadi, jangan sungkan untuk berkomentar. Beri kritik & saran juga diperbolehkan. Salam kenal, ya... ^_^
EmoticonEmoticon