Wednesday, 8 November 2017

Review Film: Jangan Membully Jika Tidak Mau Dibully

Sekolahan identik dengan pem-bully-an. Di berita juga banyak kasus pem-bully-an. Bahkan, bisa dikatakan tidak habis-habisnya. Miris mengingat hal ini. Dulu, waktu saya sekolah, pem-bully-an kerap terjadi. Tapi, tarapnya masih sangat ringan. Walau sebenarnya pada intinya pem-bully-an dalam bentuk apa pun dilarang. Tapi waktu itu, tidak ada yang namanya korban sampai meninggal, bahkan menjadi gila karena pem-bully-an.

tukang bully/korban bully juga
Judul film: Kizudarake no Akuma/Demon Covered in Scars
Rilis: Pebruari 2017

Saya memang sangat tidak suka dengan yang namanya pem-bullya-an, dalam bentuk apa pun. Namun, hal di sekolah, tidak bisa dipungkiri. Jika tidak dalam hal berat, hal ringan pun sering terjadi. Namun, tidak ada yang namanya kekerasan sampai membuat sang korban trauma dan lain-lainnya. Tapi tetap, saya tidak setuju sama sekali. Titik!

Sama dengan film Jepang yang bulan lalu selesai saya tonton. Sebenarnya, saya akan me-review-nya setelah selesai menonton. Tapi sayang, saya gagal. Saya lebih leha-leha tidak jelas. Maka dari itu, niat semula tidak diwujudkan. Tapi, alhamdulillah hari ini bisa saya wujudkan.

korban bully & mengalami depresi

Film ini berjudul Demon Covered in Scars, berasal dari Jepang. Merupakan filim Jepang yang saya tonton yang awalnya tidak menarik, namun seiring memaksakan diri untuk menonton akhirnya saya tergugah juga. Apalagi dalam film ini bercerita tentang pem-bully-an.

Jadi, ceritanya seperti ini. Ada anak gadis yang pindah ke desa mengikuti orangtua. Mungkin karena orangtuanya pindah bekerja atau yang lainnya. Saya hampir lupa. Yang pasti, anak gadis ini dulunya punya geng di sekolahannya di kota. Gengnya ini suka mem-bully anak lainnya. Caranya cukup ekstrim. Pada saat prolognya, kita diperlihatkan bagaimana proses pem-bully-an di sekoah. Sedang tukang bully-nya sangat menikmati hal ini. Lantas apa yang terjadi?

Saat di desa, anak cewek ini justeru di bully sama anak-anak lainnya. Pada awalnya, sekolah ini bisa dikatakan anti pem-bully-an. Namun sisi lain, sekolahan di desa ini, atau lebih khususnya di kelas tidak ada interaksi antara satu dan lainnya. Mereka lebih memilih berinteraksi sesama gengnya. Akhirnya, anak gadis ini berusaha utuk mencari teman. Ada beberapa trik yang dia lakukan hingga akhirnya mendapatkan teman. Namun sayang, ada teman lainnya tidak suka ke dia, akhirnya menyadap HP-nya hingga pesan yang dikirim ke teman kotanya tersebar di HP teman-teman lainnya. Hingga akhirnya, permusuhan pun terjadi. Pem-bully-an pun terjadi.

Dan tahu, kah, kalian siapa yang menyadap HP anak gadis itu? Dia adalah anak gadis yang pernah di bully sama geng anak gadis kota ini. Maka dari itu, korban ini istilahnya balas dendam. Banyak hal yang dia lakukan hingga anak gadis kota ini di-bully. Banyak hal buruk yang terjadi. Cukup miris.

Melihat hal itu, sebenaranya ada beberapa guru yang peduli, namun akhirnya hanya bisa diam diri. Malah, wali kelasnya hanya bisa diam mengetahui hal itu. Dan apa yang wali kelasnya katakan, “Pem-bully-an di sekolah itu hal yang lazim.” Dan yang mengejtukan, ternyata sang wali kelas dulu memang suka di-bully saat sekolah. Maka dari itu dia lebih memilih diam ketimbang ikut campur. Bisa ribet jadinya. Kita sudah tahu kan bagaimana pem-bullya-an itu. Misal ada yang memberitahu hal itu, maka justeru kita yang jadi korban berikutnya.

Dan apa yang terjadi berikutnya? Silahkan kalian tonton. Ada hal manis terjadi dalam film ini. Sebuah sindiran di bagian akhir terasa ada manis-manisnya begitu. Mengena banget kritiknya. Walau pada dasarnya, intrik tidak baik terjadi di sini. Tapi, intinya pada akhirnya semua kembali baik.

Film ini memang menggabarkan sebuah keadaan sekolah yang mungkin saja terjadi di sekolah-sekolah, terutama mungkin di sekolah kita bagi yang menjadi guru. Maka dari itu, memperhatikan siswa sangatlah berguna dalam hal ini. Wali kelas, atau guru BP/BK harus bergerak untuk menghilangkan hal ini. Kenapa begitu? Karena korban pembullyan bisa mengalami depresi yang luar biasa, bahkan bisa menjadi gila. Alangkah menyedihkan, bukan?

............

Baiklah, sekian dulu review film saya. Semoga setelah membaca review ini kalian tertarik untuk mendownload film ini. Dan harapan saya, semoga di sekolah kita tidak terjadi semacam ini. Apa pun bentuknya pem-bully-an ini, entah itu berat atau ringan, yang pasti sangatlah buruk. Maka dari itu, sebagai guru, wali kelas, dan pihak lainnya, mari kita memperhatikan lingkungan sekolah kita. Hilangkan yang namanya pem-bully-an.

Berbagi itu menyenangkan. Jadi, jangan sungkan untuk berkomentar. Beri kritik & saran juga diperbolehkan. Salam kenal, ya... ^_^
EmoticonEmoticon