Thursday, 7 September 2017

Apa Harus Pacaran?



Kalian tahu, banyak terjadi seperti yang kualami ini. Sahabat jadi cinta. Begitulah. Sebelumya aku tidak merasakan apa-apa pada sahabatku. Namun seiring kami tumbuh menjadi remaja, ada hal aneh yang kurasakan di dalam dadaku. Sebuah getaran. Getaran itu akan memukul saat bersamanya. Aneh? Aku rasa ini tidak aneh. Karena aku bertanya tentang keadaanku pada teman sekelasku. Teman yang cukup aku percaya. O ya, bukankah laki-laki bercerita pada orang yang dipercayainya?

“Hal lumrah. Aku juga suka dengan teman masa kecilku. Tapi, aku tidak sedekat kamu dengan Nel.”
“Kamu terlalu mengaguminya. Banyak sisi yang membuatmu nyaman dengannya. Bukan begitu?”

Dua ucapan itu membuat aku menyimpulkan aku memang suka pada sahabatku. O ya, namanya Nel. Aku dan dia sahabatan dari kecil. Bermain bersama. Berangkat ke sekolah bersama. Pulang juga bersama. Nel sekarang tumbuh menjadi gadis cantik. Rambutnya panjang. Berlesung pipi. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis. Ada tahi lalat di dagu bagian kirinya. Saat senyum, maniiis sekali. Ini jujur. Tidak berlebihan sama sekali.

“Lalu haruskah aku menyatakan cinta padanya?”
Ham, orang yang aku percaya, menggeleng-geleng. Senyum. Tingkahnya seolah mentertawaiku. Mungkin karena dia lebih tahu tentang cinta terlebih dahulu dari pada aku. Jujur, baru kali ini aku merasakan ini. Itu pun saat berapa kali aku tidak bersama Nel, ada kosong yang kurasakan. Bahkan, kesimpulan jatuh cinta itu pada dasarnya aku simpulkan karena hasil ceritaku pada Ham.

“Menurutmu bagaimana?”
Ham bukannya memberi jawaban, malah dia bertanya. Aduh. Jawab apa aku. Ini kan, hal pertama kali. Apa mungkin aku jujur saja pada Nel?

Aku menggeleng. “Menurut kamu bagaimana?”
“Ada yang perlu kamu perhatikan kalau kamu suka ke sahabat. Pertama, akibat nantinya. Kedua, akibat berikutnya.” Ham senyum. Kembali menggeleng-geleng juga.
“Maksud kamu? Aku tidak mengerti. Sederhanakan biar aku ngerti.”

“Jatuh cinta pada sahabat. Ada dua kemungkinan. Menyatakan cinta perlu persiapan karena ada dua pilihan, diterima atau ditolak. Setelah menyatakan cinta, apa kondisi persahabatan akan seperti biasanya. Terakhir, jika tidak menyatakan cinta, ya... siap-siap galau.”

Diam. Menghayati. Ucapan Ham benar juga. Lalu apa yang aku lakukan? Oh, ternyata jatuh cinta pada sahabat rumit juga. Oke, cukup untuk hal ini. Tutup kondisi saat ini. Harus mempersiapkan selanjutnya. Maksudku, biarkan air mengalir seperti biasanya.

....................................

Keluar main biasanya aku dan Nel ke kantin membeli makanan ringan dan membawanya ke taman sekolah. Ada tempat biasa aku tempati dengan Nel. Mungkin, bisa dikatakan ini tempat kesukaan kami. Di bawah pohon mangga. Iya, di sana. Tempatnya sangat teduh. Di sanalah aku dan Nel bercanda, berdiskusi, bahkan pernah hampir berantem. Namun, sejak berkesimpulan jatuh cinta pada Nel, aku sering menolak ajakannya. Bahkan dia pernah bertanya mengenai hal itu. Tapi, setelah aku berkata lagi bad mood, dia akan mengerti. Dan, di sanalah tempat istimewanya Nel, dia tidak akan bertanya lagi ketika pertanyaannya di jawab.

Sama seperti saat ini, setelah keluar main, Nel mengajak aku ke kantin. Tapi, aku menolak dengan alasan yang sama, bad mood. Bila kuhitung-hitung penolakan yang kulakukan sudah hampir sertaus lebih. Jujur, ada rasa bersalah terhadap Nel. Tapi, aku tidak ingin kelihatan aneh di sekolah, apalagi sampai dilihat teman-teman. Jujur juga, bukan karena aku akan bertingkah aneh atau semacamnya. Haya saja, bila aku tidak tahan dengan perasaanku, bisa saja aku akan menyatkan cinta pada Nel. Dan, ucapan Ham akan terwujud; ditolak atau diterima. Bahkan yag parah, mungkin saja Nel akan lari dariku. Lalu, minggu-minggu berikutnya dia akan menjauhiku. Aduh, ribet, kan?

....................................

Muzia, kakak perempuanku yang kuliah semester tiga menghampiriku di teras rumah. Dia membawa secangkir teh dengan toples kecil berisi gula. Kebiasannya memang seperti itu. Bila dia meminum teh tanpa gula dan merasa cukup, dia akan memberikanku sisia tehnya dengan menambahkan dua sendok kecil gula tentunya.

“Rem, kamu ada masalah dengan Nel?” Muzia meletakkan cangkir tehnya di meja, kemudian duduk di sampingku.
Aku menggeleng.
“Kamu yakin?”
“Iya.” Aku mengangguk-angguk. “Memang kenapa?”

“Nggak ada sih. Tapi, Nel pernah cerita kalau kamu akhir-akhir ini berusaha menghindar darinya. Apa itu benar?” Muzia menatapku, seolah ingin segera meminta penjelasan.
Sekali lagi, aku menggeleng. “Nggak, kok. Aku masih jalan bersama ke sekolah, pulang juga.”
“Tapi kok, Nel, bercerita begitu.”
“Entahlah.” Aku mengangkat bahu, seolah tidak tahu.

....................................

Aku memikirkan perkataan Muzia. Sepertinya, Nel, sudah mulai curiga terhadap tingkahku. Apa jangan-jangan dia sudah tahu kondisiku sebenarnya? Maksudku, perasaanku terhadapnya. Aku gelisah. Sepertinya, aku harus menyelesaikan semua ini. Aku tidak ingin menjadi laki-laki pengecut. Aku harus berani mengambil resiko. Semua ucapan Ham benar, dan aku harus menerima semuanya.

Tekatku bulat. Menyelesaikan semua ini. Kuambil telepon genggamku, lalu menelpon Nel.
“Tumben kamu menelpon. Ada yang kamu lupakan?”
Keningku mengerut mendengar ucapan pertama langsung Nel. Oh Tuhan, aku baru ingat kalau sekarang aku juga jarang menelpon Nel.

“Tidak. O ya, Nel. Hari ini kamu ada kegiatan?”
“Tidak.”
“Kita ke kedai es krim. Ada yang aku mau bicarakan.”
“Oh, sip. Kamu ke rumah, ya.”
“Iya.”

....................................

Aku dan Nel sudah di kedai es krim. Nel memesan es krim vanila kesukaannya, sedangkan aku rasa cokelat. Kami menyantap hidangan dengan perbincangan mengenai tugas sekolah yang rencananya akan kami kerjakan bersama sepulang dari kedai.

“O ya, Rem, katanya kamu ingin bicara,” seru Nel ketika selesai membahas tugas sekolah. Seru Nel sekaligus mengingatkan.
Aku menepuk jidatku. Aku hampir lupa. “Iya. Tapi kamu jangan marah, ya. Apalagi berubah,” pesanku dengan berani. Hati sudah berdegub tidak karuan.
Nel mengangguk sambil menggigit sendok plastik es krim.

“Aku tahu kamu sering cerita pada Kak Muzia. Iya, aku ngaku. Sekarang aku memang berubah. Itu sebenarnya karena....”
Mata Nel menyorot.
Aku menelan ludah, dan, mulutku mulai terbuka, tapi ....

“Iya, aku tahu.” Nel memotong ucapanku dengan cengengesan. “Aku tahu semuanya dari Ham. Aku menyogoknya untuk cerita. Itu tidak salah, Rem. Itu hal lumrah. Tapi....”
Mendengar itu, aku malu. Wajahku seperti udang rebus. “Tapi apa?” tanyaku merespon ucapanya kemudian.

“Apa kita harus pacaran?” mata Nel membulat.
Aku mengelus tengkukku – bingung harus menjawab apa.
“Bagaimana kalau kita pacaran sambil sahabatan?” lanjut Nel ketika melihat reaksiku, “tapi, tidak ada yang namanya cemburu, sakit hati, atau penyakit cinta pada umumnya. Aku mau seperti kita biasanya. Hmm....?”

Aku tidak percaya ucapan yang ini. Benarkah ini? Aku menggeleng. Berusaha mencerna ucapan Nel. “Jika itu terbaik, baiklah. Sepakat?” aku mengulurkan tangan.
Nel menjabat tanganku. “Sepakat!”
Aku lega. Nel tersenyum manis. Bahkan lebih manis dari es krim yang kumakan.
Pacaran sambil sahabatan? Kayak gimana, ya? ^_^


Berbagi itu menyenangkan. Jadi, jangan sungkan untuk berkomentar. Beri kritik & saran juga diperbolehkan. Salam kenal, ya... ^_^
EmoticonEmoticon