Sunday, 16 April 2017

Sepotong Perjalanan ke Surabaya

Cerita pertama kali ke Surabaya.
Ini merupakan pengalaman pertama ke luar kota.

Bahagia. Akhirnya mampu menginjakkan kaki ke Surabaya. Tidak pernah saya pikirkan akan ke sini. Ini murni hanya sebuah kebetulan. Tidak ada pilihan lain. Jadi, ini sebuah keajaiban? Haha. Rasanya tidak cocok membicarakan tentang keajaiban. Sebab, pergi ke Surabaya adalah sebuah tanggung jawab dari sekolah. Tepatnya, pelatihan Laboraturium.

lantai dasar. tempat nunggu dan makan
Cerita di balik lift

Saya mulai dari cerita ini saja. Sebenarnya ingin rasanya saya mengabadikan itu semua. Dari awal hingga pulang kembali. Tapi sayang, hanya serpihan ini yang teringat jelas diingatan. Lain kali, bila menengok kembali koleksi foto, insya Allah saya akan mengingat semuanya. Untuk kali ini, saya lebih ingat tentang cerita lift. Ini cerita lucu sebenarnya. Bila diingat, kadang bikin ketawa.

Ini bermula ketika kegiatan pelatihan Laboraturium dimulai. Saat pelatihan kami berada di lantai dasar. Pelatihan ini dilakukan dua kali. Pertama, pagi kumpul dengan penyampaian materi. Kedua, setelah selesai sholat Dzhur sampai menjelang magrib. Sholat Ashar cuma sebentar dan langsung pelatihan. Jadi, pelatihan ini saya bagi menjadi dua bagian.

saat di lift

Saat istirahat menjelang siang, saya dan teman tentu akan langsung ke kamar. Istirahat lebih tepatnya. Karena kamar kami berada di lantai paling atas, maka kami memutuskan untuk menaiki lift. Namun sayang, itu malah menambah derita kami. Soalnya banyak orang yang ngantri di satu lift di lantai dasar. Daripada menunggu lama, maka kami naik saja mengikuti anak tangga. Dan rasanya? Jangan ditanya lagi, kami tepar. Penyiksaan diri namanya. Coba saja pelatihan ini hanya sedikit orang, mungkin mengantri di lift tidak akan lama. Tapi yang namanya pelatihan, tentu dari beberapa provinsi akan ikut. Jadinya, terima saja.

Terkait tentang lift, kami selalu gagal naik lift. Soalnya, banyak orang yang ngantri. Karena tidak mau ketinggalan, terpaksa kami turun tangga lagi. Benar-benar penyiksaan diri. Padahal ujung-ujungnya kami telat. Ini karena memang kami saat sudah sampai di kamar langsung tepar.

Hari berikutnya, kami benar-benar tidak ingin naik tangga lagi. Kami pun menunggu di lift. Bejibunan membuat kami berebut masuk di lift. Saat masuk, lift mengeluarkan suara karena tidak muat. Terpaksa harus keluar. Dan tentunya, rasa malu hadir dengan sendirinya.

Ide muncul

Memang benar, dalam kesulitan pasti ada jalan keluar. Untuk itu, secara tidak langsung kami memiliki ide untuk jalan keluar lift ini. Akhirnya kami memutuskan untuk naik tangga ke lantai dua. Saat itulah hal yang tepat menurut saya. Saat lift turun menuju lantai dasar, dengan gesit kami memberhentikan di lantai dua. Kami masuk, dan lift turun ke lantai dasar. Dan inilah cerita lucunya.

“Lho, bukankah tadi ngantri juga?”
“Tadi samaan, kan, nunggu di sini?”

Dan, beberapa komentar lainnya datang ketika teman-teman melihat kami di dalam lift. Rasa ingin ketawa tiba-tiba ingin datang. Tapi sayang, kami tahan. Saat beberapa teman lain masuk, tentu tidak ada yang berani masuk lebih. Saat inilah hal yang nyaman diperoleh. Saat keluar dari lift dan masuk kamar, di sinilah tawa kami pecah. Benar-benar pecah. Dan ide ini ternyata benar-benar mujarap sekali.

Bagaimana rasanya naik lift?

Jagan tanya hal ini ke saya. Sepertinya, saya akan malu untuk menjawabnya. Teman saya mungkin sudah terbiasa karena sudah lama tinggal di Jawa, tepatnya di Malang. Nah saya? Rasanya seperti naik mobil yang bau. Di sini, saya pusing dang ingin muntah. Sempat mau oleng gara-gara naik lift. Makanya, kalau sudah naik selalu pegangan di penyangga yang disediakan di lift. Benar-benar memalukan, kan?

Haha. Kalau mengingat hal ini rasanya saya itu benar-benar orang kampung. Tepatnya orang kampung masuk kota. Selama di lift, banyak hal yang kami tertawakan. Apalagi teman saya selalu menggoda karena beberapa tingkah saya yang dirasanya sangat kampugan. Baiklah, saya sadar bahwa saya benar-benar kampungan. Hiks.

Sekian dulu cerita saya dari potongan perjalanan ke Surabaya. Lain kali, saya akan cerita tentang perjalanan di Surabaya ini lagi. Ada banyak hal yang ingin saya tulis, tapi masih memulihkan daya ingat dulu. Nantikan, ya. ^^

Berbagi itu menyenangkan. Jadi, jangan sungkan untuk berkomentar. Beri kritik & saran juga diperbolehkan. Salam kenal, ya... ^_^
EmoticonEmoticon