Wednesday, 15 February 2017

Berharap, Sama dengan Sakit Hati

Berharap, sama dengan sakit hati - Berharap. Cukup satu kata. Hal ini kerap dialami orang. Karena dengan demikian, setidaknya ada jalan keluar untuk menenangkan hati – sementara. Sementara? Iya, memang hanya sementara. Bahkan, bisa dikatakan sekejap. Walaupun demikian, sekali lagi, setidaknya bisa menenangkan hati. Bagaimana jika tidak ada harapan, pasti setiap orang akan gusar, bingung, dan akhirnya akan lari sekencang mungkin. Saat lihat jurang yang tinggi, bisa jadi akan terjun. Dan untungnya, jika jurang itu ada kasur empuk yang tebalnya berapa sentimeter. Selamat, kalian termasuk orang yang tidak bunuh diri. Eh. *_^


Baiklah. Lupakan yang tidak penting yang disisipkan tadi. Yang pasti, setiap orang bisa berharap. Berharap itu gratis. Jadi, bebas siapa pun boleh berharap. Namun, berharap juga punya ketentuan. Misal seperti ini. Jika berharap menjadi orang terkenal, sebaiknya bercermin dulu. Apakah kita termasuk yang layak terkenal? Jika tidak termasuk, maka lupakan harapan itu. Eh, misal yang di atas terlalu tinggi ya…. Atau begini saja. Misalnya kita beralih ke lingkaran asmara saja. Di mana, kita/kalian pernah berharap ke seseorang. Seseorang itu munurut kalian sangat baik dan pokoknya super super yang ingin kalian miliki. Nah, si ‘dia’ juga merespon baik. Kalau dalam kategori ini bisia dikataka pe-de-ka-te. Nah, pas si dia juga melayani baik. Jangan berpikir negatif ya… maksudnya, merespon baik. Sempat cerita-cerita, tawa-tawa bersama. Tentu dong kalian pasti berharap. Bahkan di dalam hati berkata, “Pasti dia suka aku.”

Kalau sudah berpikir seperti itu, layak pula untuk berharap. Kalau sudah demikian, maka siap-siap untuk hisap permen nano-nano. Karena pasti rasanya rame banget. Nah, kalau terjadi semacam itu, maka… siap-siap untuk sakit hati. Bukan itu sih pastinya. Berharap itu sebenarnya sama dengan teori peluang. Sederhanya sih, seperti dua sisi kepingan uang. Kalau tidak garuda. Ya, pasti bunga melati. Jadi… bisa dipahmi, kan?

Huah… ini apaan sih? Tidak bermutu banget, ya? Sebenarnya, ingin menyampaikan saja tentang harap. Berharap itu boleh saja. Asal, lihat situasi dan kondisinya. Karena seperti judulnya, berharap itu sama dengan sakit hati. Kadang. Bukan, bukan kadang sih. Itu pasti. Biasanya bila orang sering berharap pasti sering kecewa. Makanya, siapkan mental jika menjadi orang pengharap. Mental? Apa cukup? Tidak cukup sih. Yang pasti, tebalkan iman. Supaya segala sesuatu itu bisa dinetralkan.


Masih bingung dengan tulisan ini? Sama. Aku saja yang nulis juga bingung. Catatannya sih… jangan berharap ke orang alias manusia. Bisa mendatangkan segala macam penyakit. Sakit hati, cemburu, dendam, iri, dan sebagainya. Sakit macam ini sulit sekali obatnya. Bahkan tidak dijual di apotik terdekat (di rumahku tidak ada apotik). Kalau sakit, beli di mana? Ya… kadang-kadang jarang sakit,. Wuhaha… kayak sakit dikontrol aja. Hai, ini hanya isapan jempol saja. Tidak ada isinya. Apaan sih?

Kalian bisa paham, kan? Berharap itu sewajarnya saja. Jadi, selamat menata hidup lebih baik lagi. Usahakan setiap hari merubah hidup lebih baik. Baik, baik, dan lebih baik. Tidak mau kan menjadi orang yang merugi?

Hai, jangan hasal nasihat, ngaca dulu. Iya. Aku tahu. Aku juga tidak tergolong manusia yang baik. Bahkan dikaegorikan manusia tanpa dosa. Dosaku banyak. Kayak busa. Eh, tepatnya debu sih. Tapi walaupun demikian, aku siap untuk mengubah lebih baik. Walaupun… ya, susah juga. Tapi, harus tetap semangat. Demi masa depan cerah. Eh, apa tidak terlambat? Ingat usia!

Hiks… sedih. Sedih karena usia? Bukan! Ini karena ngelanturnya sampai panjang gini. Baiklah. Cukup. Semoga kalian paham yang aku masuk. Mari berharap kepada yang Memberi Segalanya.

Berbagi itu menyenangkan. Jadi, jangan sungkan untuk berkomentar. Beri kritik & saran juga diperbolehkan. Salam kenal, ya... ^_^
EmoticonEmoticon