Ticker

6/recent/ticker-posts

Cerpen Remaja [Cowok yang Sering Lewat Rumahku]

Aku menyukainya. Sangaaat menyukainya. Bagaimana tidak, aku terpesona pada pandangan pertama. Saat itu, dia ke rumahku, bertanya tentang alamat rumah yang dicatatnya. Jangan ditanya lagi, bagaimana reaksiku saat itu. Intinya, dalam hatiku, aku mengaguminya. Dengan suara yang sengaja kulembutkan, aku memberitahunya. Dia senyum, kemudia berterima kasih. Kalian tahu, senyumnya... huh, melelehkan.


Dia tinggi, sekitar 170 cm. Kulitnya putih. Ada tahi lalat yang menempel di hidunngnya – kecil. Dia berlesung pipi. Rambutnya ala-ala anak Korea, kalau boleh disebut, rambutnya mirip dengan Lee Min Ho saat berperan di City Hunter, tapi tidak terlalu panjang seperti Lee Min Ho. Bagaimana, kalian terpesona bukan? Dia kerap berkunjung ke gang rumahku. Ada temannya di samping rumahku – berjarak tiga rumah. Jadi, bila dia berkunjung, kerap aku menikmati senyumnya itu. Bahkan, aku tahu jadwal dia berkunjung ke rumah temannya.

“Hai,” sapanya suatu hari. Aku seperti ketahuan. Bagaimana tidak, bila dia berkunjung ke rumah temannya, aku akan gesit ke balkon rumahku – memandangnya.

“Hai, juga.” Aku melambaikan tangan. Dia membalas lambaianku.

“Kulihat kau sering di balkon. Apa kau suka di balkon rumah?”

Aku tidak menyangka kalau selama ini dia memperhatikan keberadaanku. Sontak, hatiku girang sekali. “Ah, nggak, kebetulan saja,” aku berkilah, menggaruk-garuk kepala, padahal tidak ada kutu di kepalaku.

“Baiklah. Aku ke rumah temanku dulu.”

Aku mengangguk. Mataku menyorot setiap langkahnya.

Hari berikutnya, aku menanti kedatangnnya. O ya, aku hampir lupa, jadwal dia berkunjung ke temannya itu empat kali seminggu; Senin, Rabu, Kamis dan Sabtu. Waktunya sekitar jam 4 sore. Jadi, kalau sudah demikian, aku akan menunggu setia. Segala urusanku secara peribadi aku tinggalkan. Bahkan, Reina, sahabatku sempat protes karena aku terlalu sering menolak ajakannya untuk hang out.

“Pasti gara-gara tuh, cowok. Iya, kan?” Itu reaksi Reina. Iya, aku pernah cerita masalah cowok itu. Bahkan ciri-ciri cowok itu hingga apa yang dipakainya hari itu aku ceritakan. Reina sempat kagum dengan ceritaku, bahkan dia hampir meleleh juga. Tapi, dia malah menyalahkan cowok itu karena aku sekarang semakin menjauh darinya. Bukan menjauh sih, hanya jarang bersam-sama lagi. Oh Reina, kau memang sahabat baikku.

“Kamu coba deh ke rumahku. Datang dan lihat, maka kau akan sama seperti diriku. Tidak ingin absen dari itu semua.”

“Kau jangan berlebihan, Mey. Nggak baik, loh. Baiklah, nanti saja.”

Dan, sampai sekarang Reina belum ke rumahku. Katanya, dia lagi mempersiapkan kejutan untuk Mamanya. Untung, dia tidak marah aku tidak ikut serta dalam mempersiapkan ulang tahun Mamanya kali ini. Mungkin karena setiap kali Mamanya ulang tahun, aku selalu ikut serta mempersiapkannya.

Oke, lupakan sejenak tentang Reina.

Saat itu....

“Kau di sana lagi?” Cowok yang tidak kutahu namanya itu menyapaku.

“Iya, aku suka memandang warna langit saat sore seperti ini.”

“Oh. Bagaimana, kau kagum, kan?”

“Iya. Aku kagum. Maha sempurna ciptaan Tuhan.” Aku sok religius.

“Baiklah. Aku ke sana dulu.”

Aku mengangguk. Dan, tentu, aku memperhatikan setiap langkahnya. Hampir saja kulupakan, menuju gang rumahku mobil tidak bisa masuk. Hanya sepeda motor yang bisa masuk. Maklum, gang rumahku agak sempit. Mungkin, cowok itu memakai mobil hingga dia selalu memilih jalan kaki.

#

Ulang tahun Mama Reina sudah selesai. Saat ulang tahu Mama Reina aku datang. Aku tidak membawa oleh-oleh seperti biasanya. Soalnya, aku bingung kalau ibu-ibu yang ulang tahu. Bingung cari kado cocoknya apa. Mama Reina dan Reina tidak keberatan mengenai itu. Memang ya, keluarga Reina semuanya pada baik. Makanya, aku suka ke rumah Reina. Mamaku juga tidak khawatir kalau aku di rumah Reina. Namun untuk minggu-minggu ini, aku sering alpa ke rumah Reina. Tapi untuk hari ini, aku ke rumah Reina dalam rangka menjemputnya untuk ke rumahku. Reina sudah siap untuk melihat cowok yang sering lewat rumahku itu.

“Kau jarang ke rumah sekarang, Mey,” protes Mama Reina.

“Maaf Tante, aku lagi sibuk sedikit,” bohongku.

“Mey, sibuk urus cowok tuh, Ma,” celetuk Reina.

“Yang benar, Mey?”

“Nggak kok, Tan. Reina bohong.” Aku mencubit pinggang Reina yang kebetulan di sampingku.

“Hehe... iya, Ma. Aku bohong.”

Aku lega, rupanya Reina mengerti.

“Kalu begitu, aku dan Reina pamit, Tan.” Aku berdiri dan menyalami Mama Reina.

“Hati-hati, ya,” pesan Mama Reina.

“Iya, Tan.”

Aku dan Reina bergegas ke rumahku.

#

Aku dan Reina sudah di balkon. Untuk menunggu cowok itu, aku menyiapkan beberapa buku, dua gelas teh dan kue-kue di meja. Di balkon rumahku memang ada meja dan dua kursi di sana. Balkon ini juga tempat favorite Mama dan Papaku. Tapi, biasanya Mama dan Papa menikmatinya pada malam hari. Kata Mama, pada malam hari dia bisa melihat sejuta bintang yang memandang kita. Mama bahkan berpesan padaku, jika aku tidak percaya diri, berdirilah di balkon ini dan pandang langit, lihatlah bintang. Saat seperti itu, ibaratkan bintang seperti manusia yang mendukung kita. Jadi, jika banyak yang mendukung kita, tentu rasa percaya diri akan muncul. Kata Mama lagi, cahaya di bintang itu seolah signal untuk mendukung kita. Huh, Mama ada-ada saja. Aku sempat meremehkan ucapan Mama, tapi saat aku mencoba itu, ternyata manjur juga – walaupun sedikit. Hehe....

“Kok belum ada yang lewat sih, Mey?” tanya Reina yang berada di besi pembatas balkon.

“Tunggu, Rei. Sebentar lagi. Ini belum jam empat.” Aku memperhatikan jam di tanganku. Tinggal lima menit, maka waktu menunjukkan jam 4.

Reina kembali ke kursi, dan menyeruput tehnya. Sedangkan aku melangkah untuk ke besi balkon. Saat aku memandang jalan, cowok itu datang.

“Rei, cepatan, cowok itu datang,” panggilku ke Reina dengan semangat.

Reina berlarian dan mengambil posisi ke arahku.

“Kau lihat kan, cowok itu...,” seruku lagi. Reina terdiam. Sepertinya dia menikmati pemandangan yang indah – yang tidak pernah dia jumpai.

Seperti biasa, cowok itu berhenti tepat di gerbang rumahku, lalu.... “Hai, kau yang suka langit, apa kau bisa membawa pesan untuknya?” seru cowok itu. Menyapa sekaligus bertanya yang entah apa maksud dari pertanyaannya.

“Bisa. Kau pesan apa? Nanti aku akan menyampaikannya,” aku menanggapi cowok itu. Aku berpikir bahwa cowok itu pandai bergurau.

“Hai, Mey, kau jangan yang aneh-aneh. Mana mungkin bisa? Emang, kau Nenek Sihir yang bisa terbang?” protes Reina yang sempat menarik pundakku.

“Sssttt.... kau diam dulu,” aku malah menyuruh Reina diam.

“Tanyakan padanya, apa di langit ada istana?” sahut cowok itu lagi.

“Baiklah. Aku akan menyampaikannya. Tapi, apa yang kau bisa berikan padaku jika aku sudah menyampaikannya?”

“Aku akan bertamu di rumahmu. Bagaimana?”

Yes, itu yang aku tunggu. “Sepakat!” aku menyodorkan tanganku seolah akan berjabat tangan. Aku girang bukan main.

“Sepakat!” cowok itu juga menyodorkan tangannya. “Baiklah. Aku ke sana dulu.”

Aku mengangguk girang. Dan, tentu, mataku kembali mengekori langkah cowok itu.

“Apa kau tidak gila, Mey?” Reina menarik pundakku. “Bagamaina bisa kau setuju dengan itu. Hal yang mustahil.”

Aku menatap Reina. “Hai, Rei. Aku tahu, itu mustahil. Tapi aku bisa cari di internet tentang itu. Jadi, itu tidak masalah. Dan barusan, kau dengar kan, aku dan cowok itu sepakat. Dia akan bertamu ke rumahku.” Aku menarik napas dengan rasa yang begitu senang.

“Kau mencari tentang istanan itu?”

“Rei, kau kok serius begitu? Tentu istana tidak ada di langit. Maksudku, tentu aku akan mencari bagaimana kondisi di langit. Tentang tata surya dan lain-lain. Aku pikir, cowok itu hanya bergurau semata,” jelasku pada Reina. Reina kadang lola, alias loading lama.

Reina menggeleng-geleng. “Semoga saja.” Lalu memlih untuk duduk, menikmati secangkir teh dan kue-kue.

#
               
“Rei, apa kau akan ke rumahku sore ini?” tanyaku pada Reina. Kami berada di kelas. Aku dan Reina sedang mengerjakan tugas Kimia. Guru kami memberikan tugas lalu pergi karena ada urusan mendadak.
               
“Untuk bertemu cowok itu lagi?” tebak Reina.
               
Aku mengangguk girang.
               
“Mau membahas tentang hal mustahil?”
               
Aku senyum. “Bukan itu saja, masih banyak yang aku tanyakan padanya. Tentang meteor, rasi bintang, dan benda-benda langit lainnya.”
               
“Huh,” Reina meniup dan mengembungkan pipinya. “Iya, aku akan ke rumahmu. Aku juga ingin tahu, apa cowok itu waras atau tidak?”
               
“Hai, Rei, kok begitu.”
               
Reina senyum. “Bercanda, kok.”
               
Aku senyum.
               
Kami kembali mengerjakan tugas.

#
               
Aku berdandan cukup cantik. Bahkan, cukup lama aku berdandan. Reina protes. Tapi aku tidak memperdulikannya. Sekarang, aku sudah di balkon, menanti kedatangan cowok itu.
               
“Aku tidak sabaran, Rei,” seruku.
               
“Hai, May, kau jatuh cinta?” mata Reina memandangku dalam.
               
Mataku memandang Reina. Senyum. “Kau berkesimpulan begitu?”
               
“Sejak awal sih sebenarnya. Tapi, melihat tingkahmu begitu, sepertinya kau lebih dari jatuh cinta.”
               
“Maksudmu?”
               
“Kau terlihat seperti orang gila.” Reina tertawa sambil tanganya mencomot kue yang kami sediakan tadi.
               
“Terserah kau saja, Rei.” Aku mengabaikan Reina. Aku berdiri dan melangkah ke besi pembatas. Melihat-lihat gang. Namun, cowok itu belum muncul.
               
“Tinggal tujuh menit, May,” seru Reina.
               
Aku kembali ke Reina, duduk. Mengambil teh dan meminumnya.
               
“O ya, May, cowok itu ke rumah siap sih? Kok, hampir setiap hari dia ke rumah itu,” tanya Reina di sela menanti kedatangan cowok itu.
               
“Temannya. Tapi, entah siapa.”
               
“Kau tidak tahu siapa yang punya rumah itu?”
               
Aku menggeleng. “Aku kan, baru beberapa bulan tinggal di kompleks sini. Jadi, aku tidak tahu orang-orang sini.”
               
Reina mengangguk. Tanganya menggamit telepon genggamnya di meja, kemuidan menyetel musik.
               
Saat dua lagu terputar selesai, aku melirik jam di tanganku. Sudah jam empat lebih. Aku bergegas ke pembatas besi balkon. Kembali ke arah gang, memastikan cowok itu sudah datang. Namun, cowok itu belum muncul juga.
               
“Sepertinya cowok itu tidak datang,” ujarku lesu.
               
“Kau yakin?” Reina menghampiri.
               
Aku mengangguk. “Dia termasuk cowok yang tepat waktu.”
               
“Aduh, May, kau kok sampai begitu. Kamu baru kenal, tahu banyak dia juga tidak, kan? Jadi, kau tunggu sebentar. Mungkin, ada sesuatu yang harus dia selesaikan.”
               
“Mungkin. Tapi, aku sudah berapa kali bertemu dengannya, dan waktunya juga tepat.”
               
Reina senyum. “Kita tunggu saja.”
               
Aku setuju. Kami pun menunggu. Namun, cowok itu belum muncul juga. Hingga tiba waktunya Reina untuk pulang, cowok itu pun belum muncul-muncul juga. Aku kecewa, bahkan bisa dikatakan sedih.

#
               
Satu minggu lebih, cowok itu belum muncul-muncul lagi. Padahal, sesuai jadwalnya, maksudku, hari-hari dimana dia akan berkunjung ke rumah temannya, aku selalu menunggu di balkon. Entah gerangan apa yang terjadi padaku, menyadari hal itu, hatiku tiba-tiba merasakan kesepian, bahkan, gairahku berkurang. Sungguh, sepertinya aku benar-benar rindu pada cowok itu. Jika demikian, apa yang harus aku lakukan?
               
“May, bagaimana kalau kita ke rumah temannya itu?” tiba-tiba Reina memberi saran seperti itu.
               
“Hai, kau benar, Rei. Aku tidak berpikir sampai ke sana.” Gairahku kembali muncul, walaupun tidak penuh.
               
“Tentu aku benar, May. Sebagai sahabat baik, aku tidak ingin hari-hari sahabatku layu gara-gara cowok.”
               
Mataku beloh, seolah kaget mendengar ucapan Reina. Aku cengengesan. Aku memang sadar apa yang terjadi atas diriku. “Bagaimana kalau sekarang?” ujarku kemudian.
               
“Boleh. Tapi, aku habiskan tehku dulu.”
               
Aku mengangguk-agguk.
               
Saat minuman Reina habis, aku dan Reina bergegas meninggalkan balkon. Kami akan bertandang ke rumah dimana cowok itu biasanya berkunjung.

#
               
Aku dan Reina sudah di depan rumah tujuan kami. Bel pun sudah kami pencet, tinggal menunggu pemilik rumah untuk membukakan gerbang. Rumah yang kami kunjungi cukup besar. Di depannya ada taman yang bunga-bunganya begitu cantik.
               
Berapa detik, seorang perempuan paruh baya menghampiri kami. Perempuan itu bertubuh langsing. Kulitnya putih. Terlihat terawat sekali. Aku tidak pernah melihatnya. Mungkinkah dia teman cowok itu?
               
“Ada yang bisa dibantu?” sapa perempuan itu sambil membuka gerbang.
               
Aku cengengesan, sedangkan Reina garuk-garuk kepala.
               
“Kami boleh tanya?” mulai Reina memberanikan diri.
               
“Ayo masuk,” tawar perempuan itu.
               
“Tidak perlu repot-repot. Kami hanya sebentar saja,” jawabku.
               
“Iya, Tante.” Reina berhenti. Sepertinya ia takut salah berucap.
               
“Tidak apa-apa.” Perempuan itu seolah mengerti.
               
“Tante tetangga baru, ya? Kok, aku tidak pernah lihat Tante,” tebakku.
               
“Tante hampir enam bulan di komplek ini loh. Mungkin kalian anak rumahan, makanya nggak pernah lihat Tante.”
               
Aku senyum. “Nggak juga kok, Tante.”
               
Perempuan itu mengangguk. “O ya, kalian mau tanya apa?”
               
Reina menatapku seolah memberikan aku isyarat kalau aku yang bicara. Namun, aku menggeleng dan menganggukkan kepala sekali seolah memperbolehkan Reina untuk berbicara.
               
“Kami sering lihat cowok sore-sore lewat sini. Apa benar dia ke rumah Tante?” tanya Reina kemudian.
               
“Iya. Apa kalian temannya?”
               
“Tidak Tante. Tapi, minggu-minggu ini aku tidak melihatnya ke sini lagi. Jadi, kira-kira kemana dia ya?” aku menjawab pertanyaan perempuan itu, seolah aku ingin menyelesaikan rasa penasaranku terhadap cowok itu.
               
“Ayo masuk, nanti Tante ceritakan.”
               
Aku dan Reina saling bertatapan. Sepertinya, ada sesuatu yang terjadi pada cowok itu.
               
Kami mengikuti perempuan itu. Duduk di teras rumah. Dia menawari kami minuman, tapi kami menolak. Dan... dia pun mulai menceritakan kami – tentang cowok yang sering lewat depan rumahku.
               
“Namanya Sandy. Seusia kalian. Dia adalah pasien Tante, sekaligus teman Tante.”
               
“Tanten seorang dokter?” potongku ketika cerita itu dimulai.
               
“Sekaligus teman?” sambut Reina kemudian. Kami berdua belum memahami.
               
Tante mengangguk. “Iya, dokter Saras tepatnya. ” Senyum. “Sandy mengangap Tante sebagai temannya. Dia datang ke rumah Tante atas permintaan Tante. Namun, minggu ini kondisinya memburuk sehingga dia tidak bisa ke sini lagi.”
               
“Dia sakit apa Tante? Dia kan tidak terlihat sedang sakit,” tanyaku penasaran.
               
Tante Saras senyum. “Dia memang begitu. Dia tidak ingin dikasihani. Sebenarnya sih, penyakitnya cukup membahayakan. Tapi, Tante tidak ingin bercerita banyak. Tante sudah janji pada dia untuk merahasiakan ini jika ada yang bertanya.”
               
“Kok begitu, Tan?”
               
Tante Saras tersenyum lagi. “Ya itu tadi, dia tidak ingin dikasihani. O ya, kalian ada apa dengan Sandy? Jangan-jangan....”
               
Aku senyum.
               
“Ini, Tan, temanku yang satu ini penasaran sama Sandy, makanya sampai bela-bela ke sini untuk bertanya,” celoteh Reina tanpa aku duga. Celotehannya membuat pipiku memerah. Tersipu malu.
               
“Duh... sampai segitunya. O ya, apa kalian mau ikut dengan Tante, besok? Tante mau ke rumah Sandy. Kebetulan orang tuanya menginginkan Sandy dirawat di rumahnya,” tawar Tante Saras.
               
Aku diam. Aku masih berpikir atas tawaran Tante Saras, namun, tidak kuduga, Reina langsung setuju dengan tawaran itu. Mau tidak mau, aku pun mau. Sebenarnya sih, aku juga setuju dengan itu, namun, aku sepertinya akan kaku bertemu Sandy. Apa yang harus aku bicarakan?
               
Setelah setuju dengan tawaran Tante Saras, kami pun pamitan. Dan... perasaanku bercampur aduk dengan hal itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanku nanti saat bertemu Sandy. Semoga, aku dalam keadaan baik-baik saja. Aku berharap juga, semoga Sandy termasuk cowok yang mampu mencairkan suasana.
               

Apa harapanku tidak berlebihan? ^_^
Reactions

Post a Comment

0 Comments