Ticker

6/recent/ticker-posts

Pertanyaan Seputar Ibu ke Siswa dan Jawabannya

Hai, jika membahasa tentang seorang ibu, tentu tidak akan habis. Tulisan bebrapa paragraf-pun saya rasa tidak akan cukup untuk membahasanya. Jadi, karena saya rasa itu tidak cukup, kali ini saya hanya memaparkan beberapa pertanyaan seputar ibu. Beberapa pertanyaan ini saya jadikan sebuah angket yang dijawab oleh siswa-siswa. Kenapa ke siswa-siswa? Karena niat pertama saya memberikannya pada mereka yaitu; pertama, agar saya tahu seberapa akrab mereka dengan ibu, kedua, apa permasalahan mereka hampir sama dengan permasalahan saya, ketiga, apa mereka bisa menerima kondisi ibu mereka (apapun kondisinya).

Baiklah. Saya tidak akan berlama-lama untuk menguraikan seperti di atas. Tepatnya, sekarang juga saya akan membahas itu semua.

                Pertanyaan seputar ibu:
  1.  Dekatkah kalian dengan ibu kalian?
  2.  Jika kalian bersama (mengobrol) hal apa yang kalian obrolkan?
  3.   Apa makanan kesukaan ibu kalian?
  4.  Pernakah kalian marah ke ibu kalian? Biasanya kalian marah karena apa?
  5. Pernahkah kalian memeluk ibu kalian?
  6.  Pernahkah kalian mengatakan sayang kepada ibu kalian?
  7. Hal apa yang belum kalian bicarakan ke ibu kalian?
  8.  Jika kalian kebetulan punya banyak uang, apa yang kalian lakukan ke ibu kalian?
Jujur, sebenarnya, 8 pertanyaan di atas cukup lama saya pikirkan. Takutnya, 8 pertanyaan itu ada yang membuat para siswa tidak suka. Tepatnya, bukan suka sih, takutnya ada yang membuat mereka bersedih. Karena saat membaca hasilnya pun, ada yang membuat saya terenyuh, dan bisa dibilang kasihan dan akhirnya bersedih.
Cukup! Mari kita bahas.... ^_^

Pertanyaan pertama, rata-rata siswa (mereka) menjawab bahwa mereka dekat dengan ibu mereka. Namun, walaupun rata-rata bukan berarti itu mutlak jawabannya. Ada yang menjawab kadang-kadang, bahkan ada yang menulis, “Aku bingung harus jawab apa. Karena dari kecil, aku tidak bisa melihat ibuku.” Ada juga yang menulis seperti ini, “Ibuku terlalu sibuk. Jadi, aku hanya bertemu beliau pada malam hari. Ya... maklum, mungkin ini nasib anak petani.”

Pertanyaan kedua, kalau masalah mengobrol, mungkin seorang anak perempuan lebih dekat dengan ibunya. Bahkan, membicarakan tentang masa depan pun kerap diobrolkan. Namun, bagaimana dengan anak laki-laki? Haha... iya, mungkin ini juga tepat seperti saya juga – jarang berkomunikasi. Tapi, bukan berarti tidak pernah berkomunikasi, hanya saja ada sebuah penghalang yang dirasakan. Padahal,sebenarnya tidak ada penghalang apa pun. Namun, saya rasa, mereka hanya canggung karena sudah mulai puber.

Pertanyaan ketiga, hai, kayaknya ini paling sulit untuk mereka jawab. Mengapa? Iya, orang Lombok mana ada yang begituan – makanan kesukaan. Makanya, saya pun langsung menegaskan kepada mereka, “Jangan bilang kalau kesukaan ibu kalian adalah ayam goreng. Kalian saja makan ayam goreng sekali setahun. Itu pun, belum tentu.” Jadi, mereka pun langsung menjawab: tumis kangkung, beberok, kelak kelor, sambal tempe, dan masih banyak makan khas Lombok lainnya.

Pertanyaan keempat, bagian ini juga mengingatkan saya masa kecil dulu. Kenapa? Karena masa ini, iri, suka marah-marah, hingga ngambek pun terjadi. Jawaban mereka juga demikian. Ada yang iri karena disuruh-suruh sedangkan saudara yang lain tidak, ada yang karena tidak diberikan uang belanja, hingga mengenai sepatu dan baju.

Pertanyaan kelima, hai, mungkin bagian ini 50:50. Walapun hasil dari jawaban mereka rata-rata pernah memeluk ibu mereka. Namun, saya sedikit ragu mengenai hal itu. Bukan tidak percaya sih, hanya saja kalau melihat karakter mereka, terutama anak laki-laki saya rasa sebagian kecil mereka malu untuk melakukan hal itu. Atau, mungkin pertanyaannya yang kurang tepat, ya... seharunya, “Seringkah kailan memeluk ibu kalian?” Hehe... intinya, alhamdulillah mereka pernah memeluk ibu mereka.

Pertanyaan keenam, aduh! Bagian ini sepertinya bagian yang paling sulit. Kenapa? Karena di daftar menurut pemikiran saya, ada beberapa hal yang sulit kita lakukan; pertama, mengucapkan terima kasih, kedua, meminta maaf, ketiga, ya... mengucapkan rasa sayang. Jadi, tidak heran sebagian besar mereka menjawab jarang, bahkan tidak pernah. Mungkin, hal ini karena ‘malu’ yang membuatnya seperti ini.

Pertanyaan ketujuh, kalau sudah mengenai pertanyaan ini, tentu jawaban pada pertanyaan keenam adalah jawabannya. Mereka juga menjawab seperti itu; maaf, terima kasih, kasih sayang. Kata-kata ini masih tabu untuk dibicarakan. Padahal, dalam hati yang paling dalam, tentu bagian itu sangatlah ingin kita katakan. Mungkin pernah, tapi bisa dihitung.

Pertanyaan kedelapan, hmm... mungkin, bagian ini juga yang mampu membedakan kita seorang anak dengan ibu. Ibu akan memberikan kita segalanya, tapi seorang anak tidak memberikan seberapa untuk ibunya. Jadi, tidak heran mereka menjawab akan memberikan ibunya; kain, mukenah, sebagian uangnya, bahkan membelikan kebutuhan sehari-hari. Sederhana sekali bukan? Tapi, bukan salah mereka sih. Mungkin, mereka belum pandai untuk menunjukkan itu semua.

Wuhaha... lumayan panjang, kan?

Penguraian ini semua pada dasaranya bentuk saya belajar untuk menguraikan sebuah angket yang saya lakukan. Namun, itu semua tidak lepas dari makan atau manfaat yang ingin saya sampaikan. Jujur, ada banyak hal pembelajaran yang bisa diambil dari siswa-siswa (mereka) dalam hal ini. Bahkan, ada beberapa yang membuat saya salut karena jawaban mereka. Sebenarnya sih, bukan karena jawaban mereka yang super waw, tapi setidaknya mereka masih menginginkan seorang ibu yang selalu menyanyangi, melindungi, mengingatkan, atau memarahi mereka. Ada juga seorang siswa yang harus menjawab sosok ibunya walaupun tidak pernah tahu bagaimana ibunya sebenarnya, tapi tetap salut karena menggambarkan ibunya sosok perempuan seperti ibu pada umumnya (antara haru dan mau nangis bombay sih).

Akhirnya, semoga kendala yang kita alamai bisa kita utarakan ke ibu.Terutama mengenai kata, ‘maaf, terima, kasih, dan rasa sayang’. Mari kita sama-sama mengucapakan kata-kata ini sebelum terlambat. Hiks.... ^_^
Reactions

Post a Comment

0 Comments