Ticker

6/recent/ticker-posts

Mimpi = Imajinasi

Menulis kadang susah ya, apalagi mood yang tidak mendukung. Maka, sepatah kata pun sulit untuk ditulis. Seolah, tangan sudah diikat kuat dan tidak mungkin bisa dilepas lagi. Jujur, hal demikian kerap menimpaku. Apalagi, minggu-minggu ini, mood nulisku begitu buruk. Selalu gagal melanjutkan novel yang sudah nangkring di leptop. Aku juga bingung, kenapa harus terjadi padaku sih.


                     [kampusharmoni.wordpress.com]

Bukan hanya mood nulisku yang turun, minat untuk membaca buku juga lemah. Padahal, ada beberap buku yang dibeli. Oh, apa aku akan membiarkan mereka seperti itu? Padahal, firasatku emngatakan kalau mereka ingin seklai dibaca. Selesai itu, bisa diceritakan lagi isinya ke orang lain, atau di-review di blog. Hmm... dasar bad mood buruk sekali memang.

Tapi... ya, sudahlah, mungkin lebih baiknya aku menulis semau-maunya saja. Intinya, tidak menyinggung SARA sih. Akhirnya, bagaimana kalau aku menulis mimpiku tadi malam saja. Kayaknya lebih unik deh. Solanya, entah bagaimana dan kenapa, kok bisa yang aku mimpi seperti itu. Jangan-jangan, aku memang cocok kali yang menjadi profesor. Eh, kok tiba-tiba begitu? Mungkin karena aku sering nonton film kartun yang judulnya  Cloudy with a Chance of Meatballs 1 samapai 2. Itu tuh, tokoh yang suka sekali pada seorang profesor dari kecil sampai dewasa. Hingga dia menginginkan bertemu profesor itu dan bisa berkerja sama dengan beliau. Karena keinginannya itu, hingga dia akhirnya memperdalam ilmu dan melakukan beragam rekaya. Hasilnya? Ada yang berhasil ada yang gagal sih. Maklum, orang nembak cewek saja bisa diterima dan ditolak. Eh, kok lari ke san? Terserah!

Lalu intinya mana? Ya... kerja keras itu memang sangat dibutuhkan dalam mengejar cita-cita. Tekun dan bersabar juga mesti ada dalam diri seorang. Eh, kok, ngk nyambung, bukan itu maksudnya! Cerita mimpi sama dengan imajinasinya mana? Oh iya, hampir lupa! (tepuk jidat yang syukur nggak jenong #versi me).

Baiklah, ini nih ceritanya. Semoga suka....

Sabtu dini hari (26/09), aku mimpi dengan kecanggihan masa depan. Entah karena apa, kok, aku bisa mimpi seperti itu, ya. Mungkin, karena imajinasiku tinggi, atau memang ini akan benar terjadi (haha... mustahil). Tapi di rasa, ini seperti masa canggih yang luar biasa. Siapa saja boleh mendalaminya. Siapa tahu....

Mimpiku seperti ini... mungkin, karena aku berprofesi sebagai guru, dan sekaligus TU di sekolah, jadi, aku lebih dekat dengan namanya ijazah. Saat menerima siswa baru, maka akan menerima ijazah pendaftaran. Pendataan ulang untuk UN, juga akan memegang yang namanya ijazah. Jadi, bisa dikatakan aku dekat dengan ijazah. Nah, dalam mimpiku juga demikian. Aku memegang ijazah salah satu siswaku. Namun, ada hal aneh dalam ijazah itu. Ini lebih fokus ke area foto. Saat dalam mimpi, aku memperhatikan foto di bagian mata siswa itu. Ada hal aneh di bagian mata – mata berwarna biru bersinar seperti berlian. Tahukah  kenapa berwarna seperti itu?

Begini... aku bermimpi di masa era canggih. Jadi, di foto ijazah setiap siswa adalah penentu umur mereka. Bila mata mereka masih berwarna cerah maka umur mereka akan lebih panjang. Beda dengan warnanya lebih redup maka hidupnya lebih singkat. Dan, tentu yang tidak bercahaya akan... mimpi yang aneh bukan?

Bukan hanya itu mimpiku, ada perubahan pula di era canggih itu. Kali ini kaitanya tentang uang. Uang di era canggih berubah seperti lembaran-lembaran materai. Bisa dilipat dan tidak bikin dompet sesak. Saat berbelanja atau menggunakan uang, maka tinggal merobek selembaran uang yang dibutuhkan. Beres. Dan, lebih praktis bukan?

Wuhahaha... ini hanya mimpi yang aneh. Jadi, tidak ada hal yang benar. Tapi eh, bisakah itu terjadi?
Bagaimana tanggapan Anda, apa mimpiku yang aneh atau aku yang aneh? Ah, tersera, ya. Intinya, masing-masing dari peribadi harus memiliki cita-cita. Karena dengan cita-cita maka lahirlah motivasi untuk meraihnya. Selamat meraih cita-cita, ya....





Reactions

Post a Comment

0 Comments