Saturday, 25 March 2017

Ketika Toko Buku Berduka

Assalamu’alaikum Wr Wb. Selamat sore sahabat. Bagaimana dengan hari ini? Semoga baik, ya. Untuk hari ini, aku sedikit membahas tentang toko buku. Di mana, toko buku itu tempat kita membeli buku. Tempat di mana kita mencari bahan bacaan untuk memperbanyak ilmu dan pengetahuan. Namun, walau pun demikian, toko buku jaman sekarang sudah mulai berduka. Berduka? Toko buku memang bisa menangis? Hehe. Tentu tidak sahabat. Berduka dalam arti pengunjungnya sepi.


Jadi ceritanya begini, tanggal 13 Maret 2017 kemarin, aku ke Selong. Kebetulan ada tugas dari sekolah. Setelah itu, aku pergi juga ke OTO Kredit Motor untuk menyelesaikan kredit motor milik keponakan. Pada saat nyetor, ada kenyaman menurtku. Kalian bisa baca bagaimana reviewku tentang OTO Kredit Motor: Review OTO Kredit Motor yang Nyaman.

Setelah selesai, aku pergi ke toko buku. Hal ini memang biasa aku lakukan. Setelah menyelesaikan pekerjaan, dan kebetulan ada waktu aku biasa memang ke toko buku. Di Selong, ada 3 toko buku. Pertama di toko Grand Hero. Lokasi ini sebenarnya berada di Pancor. Tidak jauh dari Selong. Grand Hero ini berdekatan dengan toko lain – Sinar Bahagia. Toko buku Grand Hero menyediakan beberapa buku. Sedangkan yang lainnya, kebanyakan perlengkapan sekolah. Karena modelnya gandengan, toko ini cukup ramai dikunjungi.

Kedua, ada di toko Hikmah. Bagian ini kebanyakan buku agama. Namun, hanya sedikit sekali. Novel ada tapi tidak banyak dan itu pun dipilih-pilih. Namun karena toko ini digandeng dengan perlengkapan sekolah, dan pakaian, toko ini cukup ramai. Posisinya di Pancor. Hampir dekat dengan perempatan jalan Pancor. 

toko buku Kharisma sepi pengunjung

Ketiga, ada di Selong. Tepatnya di belakang Bank BRI. Kalau tidak tahu, di depan Bank BRI ada taman Selong. Nah, di bagain belakang Bank BRI ini ada toko buku namanya Kharisma. Aku kerap beli di sini. Bukunya banyak. Ada beberapa pilihan. Namun sayang, kebanyakan buku terbitan lama. Sekitar 2, 3 atau 4 tahun belakangan. Namun, tidak apa-apa. Toh, masih banyak buku yang patut dipilih untuk bahan bacaan.

Tidak banyak memang toko buku di NTB, terutama di Lombok Timur. Mungkin, itu lantaran karena pembaca di Lombok tidak begitu banyak. Contoh saja, kerap ketika aku pergi ke toko buku aku tidak pernah menemukan siap pun di sana. Apa itu karena waktu yang berbeda ketika aku datang. Saat aku datang, mereka sudah pergi. Atau, memang tidak ada yang berkunjung. Entahlah. Yang pasti, tiap kali aku berkunjung, aku sering menemukan kosong. Yang ada hanya penjaganya saja. Penjaganya pun murni hanya sekedar bersih-bersih, dengar musik, dan hanya diam doang.

Menyedihkan? Tentu. Untuk itu, toko buku di Lombok memang berduka sekali. Karena hal ini, toko lainnya menggandeng tokonya dengan hal lain. Ini bagus menurutku. Mungkin, ini salah satu cara untuk menarik pengunjung. Setidaknya, ketika mampir mereka bisa melihat buku-buku yang ada di sana.

Ke toko buku memang tidak ada yang melarang atau merintah. Namun sebaiknya, setiap orang memiliki prioritas untuk membiasakan diri ke toko buku. Urusan membeli atau tidak itu urusan belakang. Setidaknya, dengan berkunjung berarti kemauan untuk menambah ilmu pnegetahuan pasti ada. Masalah dana, mungkin ini yang jadi permasalahan. Namun, menyisihkan sedikit saja dari uang belanja atau gaji hal yang baik.

Sangat disayangkan memang, tapi inilah kenyataannya. Sedikit saja orang yang peduli untuk menghidupkan toko buku. Dengan keadaan seperti ini, aku takut, lambat laun toko buku di Lombok akan gulung tikar. Berikutnya, diganti dengan toko lain. Jujur, aku sangat bersyukur ada toko buku. Walaupun, aku termasuk yang jarang berkunjung. Dalam sebulan, itu pun. Ini lantaran jarak dari desaku ke toko buku memang jauh. Memakan waktu kurang lebih 2 jam. Apalagi, diiringi dengan bolak balik. Cukup melelahkan. Tapi setidaknya, jika ada waktu dan itu kebetulan ada dana, aku biasanya berkunjung. Tidak banyak dibeli. Paling sekitar 1 atau 3 buku.

Aku berharap, semoga kedepan toko buku yang ada di Lombok memiliki pengunjung yang tetap. Kalau bisa, tiap hari sepuluh atau lebih dari itu ada yang berkunjung. Sepertinya, budaya membaca di Lombok harus ditingkatkan. Pemerintah harus mengkampayekan budaya membaca dengan gencar. Selain itu, dari diri sendiri harus membudayakan baca juga. Untuk hal itu, aku pun melakukannya. Hal sederhana yang aku lakukan yaitu meletakkan buku di samping tidur. Pada awalnya, mungkin kita tidak membacanya. Namun, lambat laun pasti kita akan baca.

Membiasakan hal sederhana memang terlihat biasa saja. Namun, cara yang kulakukan ini begitu mempan di diriku. Ketika tidak ada kegiatan apa-apa, atau berdiam diri di kamar dan tidak melakukan apa-apa, biasanya akan membutuhkan bacaan. Untuk itu, meletakkan buku di samping tidur adalah cara pelan-pelan untuk membudayakan membaca buku.

5 komentar

Woh...menyedihkan sekali ya kondisinya di sana.
Senang bisa berkunjung ke sini dan mendapatkan info seperti ini.

Ini jadi tantangan bersama, termasuk pemilik toko buku.
Tidak ada yang disalahkan, hanya saja perlu lebih giat berpromosi.

Salam

Salam balik. Terima kasih sudah berkunjung. Iya, ini memang tantangan. Mungkin karena minat baca yang minim, makanya seperti itu. ^_^

Jadi kasihan setelah baca ini,gak tega gitu.
Semoga sipemilik tokoh diberi kesabaran, karena pengunjung yang sepi peminat.
Nasihat untuk pemilik, jangan mudah berhenti,disaat anda berhenti, hilang semua usaha yang telah dibangun.

Artikel yang sangat bermanfaat, terima kasih :)

sip. terima kasih sudah berkunjung...

Berbagi itu menyenangkan. Jadi, jangan sungkan untuk berkomentar. Beri kritik & saran juga diperbolehkan. Salam kenal, ya... ^_^
EmoticonEmoticon